Tertarik Dunia Elektronika
Saking tertariknya tentang elektronika, maka ketika SMA karya tulis yang saya buat adalah ”Sistem Pemancaran Radio”. Karya tulis jadi syarat utama ketika akan mengakhiri kelas III SMA. Di SMA Negeri 2 Kudus (Sekarang SMA Negeri 1 Bae-Kudus), setiap siswa kelas III wajib membuat tulisan ilmiah (karya tulis), biasanya bidang permasalahan yang ditulis sesuai jurusan yang ditempuh. Karena saya jurusan IPA maka jadilah sistem pemancaran radio.
Mengambil tempat magang di studio radio ”Manggala Sakti” Kudus, mulailah wawancara dengan staf teknik radio tersebut untuk mendapatkan bahan untuk ditulis. Tidak tanggung-tangung, proses mendapatkan bahan dengan wawancara dan observasi selama tidak tiga bulan penuh! Wawancara dan observasi di lakukan di studio dan sesekali di rumah sang teknisi. Alhasil setelah karya tulis terjilid, saya sampaikan ke pembimbing/nara sumber sang teknisi. Hasilnya memuaskan saya, beliau memberi nilai ”A”. Sebuah nilai yang belum saya mengerti waktu itu. Apakah “A” sebanding dengan nilai 10? Atau berapa tepatnya kalo bukan 10. (maklum waktu itu biasa mendapat nilai 1- 10). Kalo nilai dari pembimbing di sekolah malah nggak tahu.Temen sekelas yang berjasa waktu proses penulisan saya ingat betul yaitu mas Lilik dan mas Riyadi. Tidak ketinggalan juga bang Heru dan mr. Kelik.
Tertarik dunia Elektronika, kemudian
Sebetulnya sejarah runtutnya harus dimulai dari cerita dibelakang ini. Nggak ngerti, saya sejak kecil senang dengan peraltan-peralatan elektronika, seperti radio, tv hitam putih (saat itu), tape, gramaphone (pemutar piringan hitam), senter, accu (belum ada listrik PLN). Karya terbesar saya pada waktu kelas II SD adalah membuat senter dari rangkaian dua buah baterey ukuran AAA yang dibalut dengan kertas dan dikasih penaut karet gelang, kemudian dihubungkan dengan kabel hasil dari memotong kabel lampu sepeda yang cara memasangnya dari dinamo ke rumah lampu dianyam, punya ayah.
Rangkaian baterey dan kabel kemudian dihubungkan dengan bola lampu kecil yang ujungnya tebal seperti ujung lampu led hasil ”pinjam” dari persediaan lampu senter ayah. Edisi revisi dari karya ini adalah balutan kertas di ganti dengan bekas spidol besar.Karya besar waktu kelas III SD adalah membuat speaker. Setelah berhasil “membobol” tabungan yang disimpan selama berbulan-bulan, sejumlah seribu lima ratus rupiah, jadilah saya memiliki sebuah perangkat radio mini band AM, hasil membeli dari tetangga. Setelah punya radio sendiri, terjadilah pembongkaran besar-besaran terhadap si radio kecil. Apa yang terbersit untuk saya coba bikin ? Adalah speaker. Ketika proses bongkar membongkar terjadi ternyata sumber suara berasal dari speaker kecil yang nampak kasat mata: sebuah membran yang dicolokkan dua buah kabel. Maka sang masetro kemudian meniru benda tersebut: menambatkan lembaran karet balon yang sudah di potong melebar ke mangkok kemudian ditali dengan karet. Diperpanjang kabel dari speaker radio kemudian colokkan ke membran karet balon tersebut. Dioprek habis-habisan sampai seharian, walhasil speaker yang nota bene lebih besar dari aslinya tak kunjung bunyi. Selanjutnya karya